Saturday, June 6, 2020
Tidak Lolos Universitas Negeri? Ini Alasan Kenapa Kuliah Tidak Harus di Universitas Negeri
Wednesday, January 3, 2018
MANAJEMEN PERSEDIAAN
MANAJEMEN PERSEDIAAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Keuangan
Dosen Pembimbing: Drs. Rosyadi, M.M
DISUSUN OLEH:
Kelompok 4 (CA.15.1)
Rika Bella 222015029
Shindy Sandra Debby 222015037
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2016
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah syukur atas kehadirat Allah SWT., yang telah memberi rahmat dan hidayah, sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah MANAJEMEN PERSEDIAAN dengan baik tanpa ada halangan dan rintangan. Selanjutnya salawat serta salam, semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad SAW., yang telah mengeluarkan manusia dari kebodohan, lalu menjadi penuh dengan ilmu pengetahuan. Amin.
Makalah MANAJEMEN PERSEDIAAN ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan dan juga sebagai tambahan pengetahuan untuk para pembaca, khususnya mengenai bagaimana pengendlian persediaan dalam perusahaan.
Makalah ini disusun dengan harapan para pembaca akan dapat mengetahui bagaimana MANAJEMEN PERSEDIAAN dalam suatu perusahaan, dan bisa menjadikan makalah ini sebagai bahan belajar yang akan bermanfaat untuk kita semua.
Tak lupa juga, Kepada Bapak Rosyadi, penyusun mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, karena telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penyusun dalam membuat makalah ini.
Penyusun menyadari makalah ini belum sempurna, mungkin masih banyak terdapat kekurangan di dalam penulisan dan penyusunan, baik pada kata-kata ataupun gaya bahasa yang penyusun gunakan kurang tepat. Oleh karena itu, kepada para pembaca dan pakar, penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun, demi kesempurnaan makalah ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Palembang, 09 Oktober 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTARi
DAFTAR ISIii
BAB I PENDAHULUAN1
Latar Belakang1
Rumusan Masalah2
Tujuan2
BAB II PEMBAHASAN3
Pengertian Persediaan3
Jenis-Jenis Persediaan 3
Klasifikasi Manajemen Persediaan. 5
Alasan Memiliki Persediaan..7
Tujuan Persediaan..8
Mengapa Harus Memperhitungkan Persediaan..8
Metode Menghitung Persediaan..9
Biaya Persediaan..9
Reorder Point (ROP)..10
BAB III PENUTUP 11
Kesimpulan 11
Saran11
DAFTAR PUSTAKA12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejalan dengan laju perkembangan yang terus berkembang di Indonesia, maka banyak bermunculan perusahaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar. Tujuan utama suatu perusahaan yaitu memperoleh laba seoptimal mungkin dan mengawasi berjalannya perusahaan serta berkembangnya perusahaan, maka hal yang perlu dilakukan oleh suatu perusahaan adalah mengadakan penilaian terhadap persediaan dan pengaruhnya terhadap laba perusahaan. Hal ini dilakukan karena persediaan bagi kebanyakan perusahaan merupakan salah satu modal kerja yang sangat penting didalam suatu perusahaan, dimana prosedurnya terus menerus mengalami perubahan dan perputaran. Dalam suatu perusahaan, pelaporan mengenai persediaan sangat penting bagi perusahaan dalam mengambil suatu keputusan dan persediaan merupakan salah satu dari beberapa unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara terus meneru diperoleh, diproduksi dan dijual. Oleh karena itu, system akuntansi itu sendiri harus dilaksanakan sebaik mungkin sehingga tidak mengalami hal-hal yang mengganggu jalannya operasi perusahaan. Pelaporan persediaan yang diteliti dan relevan dianggap vital untuk memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan dalam pencatatan persediaan, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam menentukan besarnya laba perusahaan yang diperoleh. Jika persediaan akhir dinilai terlalu rendah dan mengakibatkan harga pokok barang yang dijual terlalu rendah, maka pendapatan bersih akan mengalami peningkatan. Begitu juga dengan lamanya persediaan yang tersimpan digudang akan mempengaruhi biaya sehingga kemungkinan akan terjadinya kerusakan yang mengakibatkan kerugian dan kemungkinan juga persediaan akan kadaluarsa sehingga tidak laku dipasar. Dari penjelasan diatas, maka dapat diketahui bahwa persediaan sangat penting artinya bagi perusahaan. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk lebih mengetahui dan memahami bagaimana persediaan dimanage secara benar yang diterapkan dalam suatu perusahaan agar membawa manfaat yang baik dalam pencapaian laba yang diinginkan. Menurut prinsip akuntansi persediaan merupakan barang dagang yang disimpan kemudian dijual dalam operasi normal perusahaan.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini.
Apa yang dimaksud dengan persediaan?
Mengapa perusahaan harus memperhitungkan persediaan?
Apa itu metode EOQ ?
Apa saja biaya persediaan?
Apa itu Reorder Point (ROP) ?
Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari pembahasan yaitu:
Mengetahui apa itu persediaan.
Mengetahui mengapa perusahaan harus memperhitungkan persediaan.
Mengetahui apa itu metode EOQ.
Mengetahui apa saja biaya persediaan.
Mengetahui apa itu reorder point.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Persediaan
Persediaan merupakan unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan dagang dan perusahaan industry serta perusahaan jasa. Tanpa adanya persediaan, para pengusaha akan dihadapkan pada keadaan bahwa perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan para pelanggannya sehingga kontinuitas perusahaan dapat teranggu karena sumber utama pendapatan perusahaan berasal dari penjualan persediaan. Ini berarti perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang seterusnya didapatkan. Istilah persediaan memberikan pengertian yang berbeda-beda tetapi pada dasarnya maksud dan tujuannya adalah sama. Menurut C. Rolln Niwwonger, Philip E. Fess dan Carl S. Wareen : “istilah persediaan (inventories) merupakan barang dagangan yang disimpan untuk dijual dalam operasi perusahaan dan merupakan barang yang terdapat dalam proses produksi atau yang disimpan untuk tujuan itu”.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam buku Standar Akuntansi Keuangan:
Tersedia untuk dijual (dalam kegiatan operasi normal).
Dalam proses produksi (dalam kegiatan usaha normal).
Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supllies) untuk digunakan proses produksi atau pemberian jasa .
Persediaan mempunyai arti dan peranan yang penting dalam suatu perusahaan. Persediaan barang dagangan yang secara terus menerus dibeli dan dijual yang merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industry. Penjualan barang dagangan merupakan sumber utama penghasilan bagi perusahaan, karena sebagian besar sumber perusahaan tertanam dalam persediaan.
Jenis-jenis Persediaan
Persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan atas :
a. Jenis Persediaan Menurut Fungsinya
1. Bacth Stock/Lot Size Inventory
yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar yang dibutuhkan pada saat itu. Jadi, dalam hal ini pembelian atas pembuatan yang dilakukan dalam jumlah besar sedangkan penggunaan atau pengeluarannya dalam jumlah kecil.
Terjadinya persediaan karena pengadaan barang atau bahan yang dilakukan lebih banyak lagi yang dibutuhkan. Keuntungan yang akan diperoleh dari adanya Bacth Stock/Lot Size Inventory ini adalah :
- Memperoleh potongan harga pada harga pembelian
- Memperoleh efisiensi produksi (manufacturing economic) karena adanya operasi (production run) yang lebih lama.
- Adanya penghematan dalam biaya pengangkutan
2. Fluctuation Stock
yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen. Apabila tingkat permintaan menunjukkan keadaan yang tidak beraturan atau tidak tetap dan fluktuasi permintaan yang sangat besar, maka persediaan yang dibutuhkan sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan naik turunnya permintaan tersebut.
3. Anticipation Stock
yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan/penjualan atau permintaan yang meningkat. Disamping itu, menurut Rangkuti Freddy dalam buku Manajemen Persediaan, “anticipation stock juga dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga tidak mengganggu jalannya produksi atau untuk menghindari kemacetan produksi”.
b. Jenis-Jenis Persediaan Menurut Cara Pengolahannya Dan Posisi Barang
1. Persediaan bahan baku (Raw Material Stock) yaitu persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi.
2. Persediaan bagian produksi atau parts yang dibeli (Purchased Parts/Component Stock), yaitu persediaan barang yang terdiri dari parts yang diterima dari perusahaan lain yang dapat secara langsung tanpa melalui proses produksi selanjutnya.
3. Persediaan bahan-bahan pembantu atau bahan-bahan pelengkap (supplier Stock), yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan tetapi tidak merupakan bagian atau komponen dari barang jadi.
4. Persediaan barang setengah jadi atau barang-barang dalam proses (Works in Process/Progress), yaitu barang-barang yang dikeluarkan dari tiap-tiap bagian dalam suatu pabrik atau bahan-bahan yang diolah menjadi suatu bentuk tetapi masih perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi.
2.3. Klasifikasi Manajemen Persediaan (Inventory)
Ada beberapa macam klasifikasi inventori, menurut Dobler at al, ada beberapa klasifikasi inventori yang digunakan oleh perusahaan, antara lain:
a. Inventori Produksi
Yang termasuk dalam klasifikasi invetori produksi adalah bahan baku dan bahan-bahan lain yang digunakan dalam proses produksi dan merupakan bagian dari produk. Bisa terdiri dari dua tipe yaitu item spesial yang dibuat khusus untuk spesifikasi perusahaan dan item standart produksi yang dibeli secara off-the-self.
b. Inventori MRO (Maintaintenance, Repair, and Operating supplies)
Yang termasuk dalam katagori ini adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi namun tidak merupakan bagian dari produk. Seperti pelumas dan pembersih.
c. Inventori In-Process
Yang termasuk dalam katagori inventori ini adalah produk setengah jadi. Produk yang termasuk dalam katagori inventori ini bisa ditemukan dalam berbagai proses produksi.
d. Inventori Finished-goods
Semua produk jadi yang siap untuk dipasarkan termasuk dalam katagori inventori finished goods. PT XYZ adalah sebuah swalayan yang menjual produk-produk yang siap untuk dipakai. Tidak ada proses pengolahan yang ada disana, sehingga semua inventori yang dimilikinya termasuk dalam katagori ini. Setelah diperhatikan definisi inventory diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan persediaan bahan baku adalah barang-barang berwujud yang dimiliki dengan tujuan untuk diproses menjadi barang jadi. Barang ini dihasilkan sendiri dan dibeli dari perusahaan lain yang merupakan produk akhir dari perusahaan itu sendiri barang ini merupakan bahan utama dalam menghasilkan produk akhir, persediaan barang penolong atau pembantu adalah bahan-bahan yang diperlukan untuk menghasilkan produk akhir, api tidak secara langsung ikut serta dalam hasil produk akhir. Persediaan barang dagangan adalah barang-barang yang dibeli dan dimiliki oleh perusahaan dagang untuk dijual kembali. Salah satu perlunya inventory dilaksanakan dengan baik yaitu mengetahui secara pasti harga pokok dari barang-barang dagangan yang terjual. Disamping itu untuk menjamin lancarnya arus lintas barang maka perlu diadakan pencatatan terhadap segala penerimaan barang yang berasal dari supplier,barang yang dipesan oleh langganan, barang yang terjual, barang yang dikembalikan oleh langganan dan penyesuaian-penyesuaian (adjusment) terhadap barang. Atas dasar pencatatan tersebut nantinya dapat diketahui antara lain barang mana yang banyak tertimbun (over stock) barang mana yang harus dipesan kembali kepada supplier karena persediannya sudah menipis, apabila terjadi pemesanan barang kepada supplier, maka pemesanan ini perlu pula dicatat untuk mendapatkan informasi tentang inventory yang lengkap, bila segala transaksi yang disebut 4 diatas tidak dicatat dengan baik maka akan menemui kesulitan untuk mengetahui keadaan inventory secara pasti pada suatu saat misalnya kesulitan untuk mengetahui berapa jumlah persedian barang yang ada dan yang sudah dipasarkan serta jumlah barang yang sudah dipesan oleh langganan (Quantity Committed) dan berapa jumlah barang yang dipesan kepada supplier (Quantity Sold) dan informasi penting lainnya. Mengurangi inventori barang. Inventori merupakan aset perusahaan yang berkisar antara 30%-40% sedangkan biaya penyimpanan barang berkisar 20%-40% dari nilai barang yang disimpan.
2.4. Alasan Memiliki Persediaan
Laba yang maksimal dapat dicapai dengan meminimalkan biaya yang berkaitan dengan persediaan. Namun meminimalkan biaya persiapan dapat dicapai dengan memesan atau memproduksi dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk meminimalkan biaya pemesanan dapat dicapai dengan melakukan pesanan yang besar dan jarang. Jadi meminimalkan biaya penyimpanan mendorong jumlah persediaan yang sedikit atau tidak ada, sedangkan meminimalkan biaya pemesanan harus dilakukan dengan melakukan pemesanan ,persediaan dalam jumlah yang relatif besar, sehingga mendorong jumlah persediaan yang besar.
Alasan yang kedua yang mendorong perusahaan menyimpan persediaan dalam jumlah yang relative besar adalah masalah ketidakpastian permintaan. Jika permintaan akan bahan atau produk lebih besar dari yang diperkirakan, maka persediaan dapat berfungsi sebagai penyangga, yang memberikan perusahaan kemampuan untuk memenuhi tanggal penyerahan sehingga pelanggan merasa puas.
Secara umum alasan untuk memiliki persediaan adalah sebagai berikut :
1. Untuk menyeimbangkan biaya pemesanan atau persiapan dan biaya penyimpanan.
2. Untuk memenuhi permintaan pelanggan, misalnya menepati tanggal pengiriman.
3. Untuk menghindari penutupan fasilitas manufaktur akibat :
a. Kerusakan mesin
b. Kerusakan komponen
c. Tidak tersedianya komponen
d. Pengiriman komponen yang terlambat
4. Untuk menyanggah proses produksi yang tidak dapat diandalkan.
5. Untuk memanfaatkan diskon
6. Untuk menghadapi kenaikan harga di masa yang akan dating
2.5. Tujuan Persediaan
1. Menghilangkan pengaruh ketidakpastian (mis: safety stock)
2. Memberi waktu luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian
3. Untuk mengantisipasi perubahan pada permintaan dan penawaran.
Hal-Hal Yang di Pertimbangkan :
1. Struktur biaya persediaan.
a. Biaya per unit (item cost)
b. Biaya penyiapan pemesanan (ordering cost)
- Biaya pembuatan perintah pembelian (purchasing order)
- Biaya pengiriman pemesanan
- Biaya transportasi
- Biaya penerimaan (Receiving cost)
- Jika diproduksi sendiri maka akan ada biaya penyiapan (set up cost)
- Surat menyurat dan biaya untuk menyiapkan perlengkapan.
c. Biaya pengelolaan persediaan (Carrying cost)
Biaya yang dinyatakan dan dihitung sebesar peluang yang hilang apabila nilai persediaan digunakan untuk investasi (Cost of capital).
Biaya yang meliputi biaya gudang, asuransi, dan pajak (Cost of storage). Biaya ini berubah sesuai dengan nilai persediaan.
Biaya resiko kerusakan dan kehilangan (Cost of obsolescence, deterioration and loss).
Biaya akibat kehabisan persediaan (Stockout cost)
Penentuan berapa besar dan kapan pemesanan harus dilakukan.
Mengapa Perusahaan Harus Memperhitungkan Persediaan
Persediaan harus benar benar diperhitungkan oleh perusahaan karena apabila perusahaan kekurangan persediaan maka akan menghambat kelancaran usaha yang akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan , namun sebaliknya apabila perusahaan kekurangan persediaan, perusahaan akan menghadapi beberapa resiko, seperti terlalu besarnya dana yang tertanam dalam persediaan, memperbesar biaya penyimpanan, dan juga resiko kerusakan atau turunnya mutu barang.
Metode Manajemen Persediaan
a. Metoda EOQ (economic order quantity)
Adalah metode memperhitungkan kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang paling minim. Biaya yang diperhitungkan dalam metode EOQ ini diantaranya adalah biaya pemesanan setiap kali pesan dan biaya pemeliharaan ( biaya simpan). EOQ akan tercapai pada saat biaya pemesanan sama dengan biaya pemeliharaan.
Keterangan :
Q = Quantity (Jumlah Kebutuhan)
OC = Ordering Cost (biaya pemesanan setiap kali pesan)
CC = Carrying Cost (biaya pemeliharaan dalam presentase
C = Carrying Cost dalam unit
P = Price ( harga beli per unit)
b. Metoda sistem pemeriksaan terus menerus (continuous review System)
c. Metoda sistem pemeriksaan periodik (periodic review system)
d. Metoda hybrid
Metoda abc
Biaya Persediaan
Dalam pengelolaan persediaan terutama bahan baku ada 2 jenis biaya persediaan yaitu:
Biaya Pemesanan
Biaya pesan adalah biaya yang timbul sebagai akibat melakukan pemesanan. Biaya ini bersifat variable sesuai dengan berapa banyak Frekuensi pemesanan yang dilakukan. Yang termasuk biaya ini yaitu biaya mulai bahan dipesan sampai bahan baku tersebut masuk gudang, terdiri biaya penerimaan, biaya pengecekan, penimbangan, dan lainnya.
Biaya Simpan
Biaya simpan adalah biaya yang dikelurkaan oleh perusahaan untuk menyimpan persediaan selm periode tertentu. Biaya ini bersifat variable sesuai dengan jumlah bahan baku yang disimpan. Yang termasuk biaya ini yaitu biaya sewa gudang, biaya pemeliharaan bahan baku, biaya asuransi, biaya penurunan kualitas, pajak, dan biaya modal.
Reorder Point (ROP)
Setelah jumlah bahan yang dibeli dengan biaya yang minimal ditentukan, maka selanjutnya menentukan kapan harus memesan kembali agar tidak kehabisan bahan baku. Reorder Point adalah titik dimana perusahaan harus memesan kembali agar kedatangan bahan baku yang di pesan tepat datang pada saat persediaan bahan diatas safety stock (bila ada).
Dalam menentukan ROP harus memperhatikan 2 faktor :
Kebutuhan bahan baku selama tenggang waktu menunggu (masa lead time)
Besarnya safety stock
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Perusahaan dalam melakukan pelaporan mengenai persediaan sangat penting bagi perusahaan dalam mengambil suatu keputusan dan persediaan merupakan salah satu dari beberapa unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara terus meneru diperoleh, diproduksi dan dijual. Oleh karena itu, system akuntansi itu sendiri harus dilaksanakan sebaik mungkin sehingga tidak mengalami hal-hal yang mengganggu jalannya operasi perusahaan. Pelaporan persediaan yang diteliti dan relevan dianggap vital untuk memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan dalam pencatatan persediaan, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam menentukan besarnya laba perusahaan yang diperoleh.
Saran
Berdasarkan dari pembahasan diatas, maka penulis mengemukakan saran bahwa penerapan Manajemen Persediaan yang baik harus dilaksanakan secara efektif, karena akan menunjang keberhasilan perusahaan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Rangkuti Freddy, Manajemen Persediaan, Cetakan Pertama, raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995.
Warren, Fess, Niswonger, Prinsip-Prinsip Akuntansi, edisi kesembilan belas, Jilid 1Penerbit Erlangga, Jakarta 1999.
Riyanto, Bambang, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi kedua Cetakan kedelapan, Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta, 1993.
BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN PASAR UANG DAN VALUTA ASING
BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN
PASAR UANG DAN VALUTA ASING
Disusun Oleh
Kelompok 2:
Lisnawati222015014
Erlinda222015023
Shindy Sandra Debby222015037
Puspa Erika Karolina222015111
Muhammad Ryan Kafri222015074
Dosen Pembimbing:
Lesi Agusria,SE.,M.Si.
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, makalah dengan judul “Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing” dapat kami selesaikan dengan baik, dengan tujuan memenuhi tugas Mata Kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.
Ucapan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Kami sebagai pemakalah mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan di masa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat memberikan suatu manfaat bagi kami selaku penyusun makalah pada khusunya dan bagi pembaca pada umumnya, serta bisa menjadi tambahan referensi di bidang Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.
Palembang, Oktober 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………. i
Daftar Isi………………………………………………………………... ii
Bab I Pendahuluan
I.1 Latar Belakang…………………………………………………. 3
Bab II Pembahasan
A.Pengertian Pasar uang…………………………………………… 4
B.Tujuan Pasar uang……………………………………………….. 4
C.Instrumen Pasar uang……………………………………………. 5
D.Pengertian Valuta Asing…………………………………………. 8
E.Tujuan Melakukan Transaksi Valas……………………………... 11
F.Jenis-jenis Transaksi Valas………………………………………. 17
G.Margin Tranding…………………………………………………. 20
H.Intraksi Antara Pasar Valas Dan Pasar Uang…………………….. 21
Bab III Penutup
III.1 Kesimpulan……………………………………………………… 23
Daftar Pustaka …………………………………………………………….24
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang. Dengan adanya uang lalu lalu terbentuklah Pasar uang atau money market merupakan pertemuan dalam suatu pasar yang abstrak untuk memperoleh demand dan supply dana jangka pendek. Dalam pasar uang, valuta asing diperlukan untuk membayar kegiatan ekspor impor dan utang luar negeri. Valuta asing merupakan mata uang yang diakui, digunakan, dipakai, dan juga diterima sebagai alat pembayaran dalam perdagangan internasional. Valuta asing yang banyak dipakai biasanya merupakan mata uang suatu negara yang memiliki peranan ataupun kendali yang cukup besar dalam sistem perekonomian di seluruh dunia. Valuta asing merupakan bagian dari devisa suatu negara. Devisa sendiri merupakan setiap kekayaan yang dimiliki oleh suatu negara yang berada di luar negeri yang wujudnya dapat berupa barang, jasa, atau bahkan mata uang yang digunakan sebagai alat transaksi perdagangan lintas negara. Devisa suatu negara yang berbentuk mata uang ini lah yang sering kita sebut dengan istilah valuta asing..Pasar valuta asing atau disingkat valas merupakan suatu jenis perdagangan atau transaksi yang memperdagangkan mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya (pasangan mata uang/pair) yang melibatkan pasar-pasar uang utama di dunia selama 24 jam secara berkesinambungan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Pasar Uang
Pasar uang (money market) diartikan sebagai sekelompok pasar dimana instrumen kredit jangka pendek (biasanya jatuh tempo dalam waktu 1 tahun atau kurang), yang umumnya berkualitas tinggi diperjual-belikan.
Pasar uang (money market) di Indonesia masih relatif baru jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Namun, dalam perkembangan dunia sekarang ini, pasar uang di Indonesia juga ikut berkembang walaupun tidak semarak perkembangan pasar modal (capital market).
B.Tujuan Pasar Uang
Pihak-pihak yang terlibat dalam pasar uang adalah sebagai berikut:
1.Pihak yang membutuhkan dana
Dalam hal ini baik bank maupun perusahaan non bank yang kebetulan membutuhkan dana yang segera harus dipenuhi untuk kepentingan tertentu.
2.Pihak yang menanamkan dana
Yaitu pihak yang menyediakan dana atau pihak yang menjual dana baik bank maupun perusahaan non bank dengan tujuan investasi di pasar uang.
Bagi pihak yang memerlukan dana dan mencari dana tersebut di pasar uang terdapat beberapa tujuan. Tujuan ini tergantung dari kepentingan dan kebutuhan pencari dana. Tujuan pihak dalam menghimpun dana dari pasar uang yaitu:
1.Untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek , seperti membayar utang jangka pendek yang akan segera jatuh tempo.
2.Untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, karena disebabkan kekurangan uang kas.
3.Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, yaitu membayar biaya-biaya, upah karyawan, gaji, pembelian bahan baku dan kebutuhan modal kerja lainnya.
4.Sedang mengalami kalah kliring., hal ini terjadi di lembaga kliring dan harus segera dibayar.
Sedangkan tujuan bagi pihak yang bermaksud menanamkan dananya di pasar modal yaitu:
1.Untuk memperoleh penghasilan dengan tingkat suku bunga tertentu.
2.Bermaksud membantu pihak yang benar-benar mengalami kesulitan keuangan.
3.Spekulasi, dengan harapan akan memperoleh keuntungan besar dalam waktu yang relatif singkat dan dalam kondisi ekonomi tertentu.
C.Instrumen Pasar Uang
Dalam pemilihan dana, investor dapat memilih salah satu dari sekian banyak surat-surat berharga yang ditawarkan sesuai dengan tujuan masing-masing. Surat-surat berharga yang ditawarkan di pasar uang disebut dengan instrumen pasar uang.
Adapun jenis-jenis instrumen pasar uang yang ditawarkan antara lain :
1.Interbank Call Money
Merupakan kredit atau pinjaman yang harus segera dilunasi atau dibayar apabila sudah ada tagihan atau panggilan dari pihak pemberi dana (kreditor). Jangka waktu kredit berkisar antara 1 hari sampai 7 hari. Ketentuan yang harus diperhatikan dengan pemberian fasilitas call money antara lain sebagai berikut :
a. Fasilitas call money diberikan dilembaga kliring kepada bank-bank yang mengalami kekalahan kliring dan kekurangan likuiditas.
b. Besarnya pinjaman call money tidak boleh melebihi kalah kliring hari ini.
c. Instrumen pinjaman dapat berupa promes.
d. Maksimal jangka waktu 7 hari dan apabila tidak dapat dilunasi pada masa jatuh tempo, maka akan berubah menjadi pinjaman biasa.
2.Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Merupakan surat berharga yang diterbitkan oleh Bank Sentral (Bank Indonesia). Penerbitan SBI dilakukan atas unjuk dengan nominal tertentu dan penerbitan SBI biasanya dikaitkan dengan kebijaksanaan pemerintah terhadap pasar terbuka (open market operation) dalam masalah penanggulangan jumlah uang beredar. Tujuan bagi investor baik bank maupun lembaga keuangan lainnya membeli SBI adalah akibat kelebihan dana yang tidak disalurkan untuk sementara waktu, namun jika pihak investor memerlukan dana kembali, maka dengan mudah SBI dapat diperjualkan kepada pihak Bank Indonesia ataupun pihak lain.
3.Sertifikat Deposito
Merupakan alternatif utama bagi pihak perbankan untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendeknya.
Perbedaan antara sertifikat deposito dengan deposito berjangka adalah dalam hal identitas, dimana sertifikat deposito atas unjuk, sedangkan deposito berjangka atas nama. Dengan tanpa identitas (atas unjuk) ini, maka sertifikat deposito dapat diperjualbelikan atau dipindahtangankan sedangkan deposito berjangka tidak. Kemudian dalam hal nominal sertifikat deposito sudah tercetak sedangkan deposito berjangka belum. Perbedaan lainnya adalah dalam hal penarikan bunga dimana sertifikat deposito dapat ditarik dimuka sedangkan deposito berjangka hanya dapat ditarik setiap bulan atau setelah jatuh tempo.
4.Surat Berharga Pasar Uang (SBPU)
Merupakan surat berharga yang diperkenalkan oleh Bank Indonesia tahun 1985 sebagai salah satu alat untuk melakukan operasi pasar terbuka dalam rangka ikut menstabilkan nilai rupiah. Penerbitan warkat-warkat yang berupa wesel atau promes dengan jangka waktu 30 hari sampai 180 hari.
5.Banker’s Acceptance
Merupakan wesel bank yang diberikan cap dengan kata-kata “accepted” dan dapat diperjual belikan di pasar uang sebagai salah satu sumber dana jangka pendek. Jangka waktu penarikan wesel berkisar antara 30 hari sampai 180 hari. Wesel yang diberi cap “accepted” inilah yang kemudian kita kenal dengan Banker’s acceptance.
6.Commercial Paper
Merupakan kertas berharga yang dapat diperdagangkan di pasar uang dengan jangka waktu yang tidak lebih dari 1 tahun. Yang termasuk kedalam jenis commercial paper adalah promes yang diterbitkan oleh perusahaan lembaga keuangan termasuk bank.
Kelebihan commercial paper adalah sebagai berikut :
1.Pihak penerbit tidak perlu menyediakan jaminan.
2.Tingkat suku bunga yang relatif rendah jika dibandingkan dengan jenis kredit lainnya.
3.Penerbitannya relatif mudah dengan jangka waktu yang tidak terlalu pendek.
Kelemahan Commercial paper adalah sebagai berikut :
1.Karena tidak ada jaminan, maka untuk menjualnya relatif lebih sulit apabila sipenerbit tersebut bonafiditasnya dianggap kurang.
2.Dana yang diperoleh hanya digunakan untuk modal kerja.
7.Treasury Bills
Merupakan instrumen pasar modal yang diterbitkan oleh Bank Sentral dengan jangka waktu paling lama 1 tahun. Penerbitan treasury bills oleh Bank Sentral ini biasanya atas unjuk dengan nominal tertentu.
Keuntungan dari treasury bills ini adalah sebagai berikut :
1.Bagi pembeli faktor kepercayaan akan dibayar kembali mengingat diterbitkan oleh bank pemerintah.
2.Jenis surat berharga yang mudah diperjualbelikan.
8.Repuchase Agreement
Merupakan bentuk surat berharga yang juga dapat diperjualbelikan dengan suatu perjanjian tertulis bahwa si penjual akan membeli kembali surat-surat berharga tersebut. Transaksi repuchase agreement ini diperjualbelikan secara diskonto .
D.Pengertian Pasar Valuta Asing
Pasar valuta asing atau sering disebut dengan istilah Foreign exchange maeket merupakan pasar dimana transaksi valuta asing dilakukan antarnegara maupun dalam suatu negara. Transaksi dapat dilakukan oleh suatu badan/perusahaan atau secara perorangan dengan berbagai tujuan. Dalam setiap kali melakukan transaksi valuta asing, maka digunakan kurs (nilai tukar). Nilai tukar ini dapat berubah-ubah sesuai kondisi dari waktu kewaktu yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor ekonomi dan politik.
Pasar valiuta asing terdapat di tiap negara dan dalam praktiknya dapat dijangkau oleh setiap negara dengan sarana terkomunikasi yang ada. Karena menyangkut banyak negara diseluruh dunia, maka transaksi yang dilakukan hampir tidak pernmah tidur. Sebagai contoh pada saat suatu transaksi tutup disuatu negara karena sudah larut malam, maka pada saat yang sama dinegara lain transaksi baru dimulai karena pagi ahri. Demikian transaksi selalu berputar antara pusat-pusat keuangan seperti New York, London, Tokyo, Hongkong atau Jakarta.
Di Indonesia Bank Indonesia juga menyelenggarakan bursa valas, dimana bank-bank devisa dapat melakukan transaksi valas dengan BI. Kurs ditentukan oleh Bank Indonesia setiap hari dan kurs selalu berubah-ubah setiap hari. Transaksi valas antarbank devisa dapat pula dilakukan dalam bursa bebas, baik dalam bursa bebas, baik dalam negeri maupun internasional.
Penjualan valas oleh bank devisa dilakukan oleh para dealer-dealer bank yang bersangkutan. Dealer merupakan petugas bank yang melakukan transaksi valas dan dalam melakukan pekerjaannya dilengkapi dengan berbagai alat atau sarana informasi yang canggih. Tempat melaksanakan pekerjaan ini para dealer dikumpulkan dalam suatu ruangan tertentu yang disebut dealing room. Ruangan ini tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang, setiap kejadian atau perubahan kurs dapat dimonitor melalui layar televisi dan alat informasi lainnya, seperti jam dinding yang dilengkapi waktu setiap negara.
Dalam perdagangan pasar valas internasional hanya mata uang yang tergolong “convertible currencies” yang sering diperdagangkan, sedangkan yang tidak termasuk dalam golongan tersebut jarang diperdagangkan. Yang menentukan golongan convertible currencies adalah salah satunya volume perdagangan suatu negara baik secara kualitas maupun kuantitas di samping faktor lainnya. Yang termasuk kedalam golongan mata uang yang kuat convertible currencies antara lain:
•US Dolar= Dolar Amerika SErikat
•FRF= France Perancis
•JPN= Yen Jepang
•SFR= France Swiss
•AUD= Dolar Australia
•CAD= Dolar Canada
•D M= Deutch Mark Jerman
•SGD= Dolar Singapura
•HKD= Dolar Hongkong
•GBP= Poundsterling Inggris dan mata uang laiinya.
Golongan yang kedua adalah jenis mata uang yang tergolong lemah (soft currencies). Mata uang yang tergolong lemah ini jarang diperjualbelikan. Biasanya mata uang yang tergolong lemah berasal dari negara-negara berkembang seperti Rupe India atau Peso Filipina, termasuk mata uang kita Rupiah bagi negara lain.
Disamping dapat dilakukan antar negara transaksi valas juga dapat dilakukan antar bank dengan nasabahnya seperti transaksi uang kertas asing (bank notes), travellers cheque, giro valas, transfer ke luar negeri atau kegiatan mata uang asing lainnya. Dalam transaksi ini bank menggunakan kurs jual dan kurs beli dimana peneggunaan kurs dapat dilakukan sebagai berikut:
•Kurs jual pada saat bank menjual dan nasabah membeli
•Kurs beli pada saat bank membeli dan nasabah menjual
Khusus untuk uang kertas (bank notes) bank menggunakan kurs bank notes, sedangkan untuk valas lainnya bank menggunakan kurs devisa umum.
Selisih antara kurs jual dan kurs beli yang disebut spread yang merupakan keuntungan bank dalam praktiknya selalu kurs jual lebih tinggi dari kurs beli. Penentuan kurs, pihak perbankan mengacu kepada kurs konversi yang dikeluarkan oleh perbankan setiap hari, kemudian ditambahkan dengan keuntungan yang diinginkan. Penentuan kurs dapat dilakukan secara direct rate atau indirect rate. Direct rate maksudnya adalah penentuan yang menempatkan mata uang domestik di depan mata uang asing. Sebagai contoh penentuan kurs dengan direct rate adalah sebagai berikut ini :
Rp. 9.000 = US $ 1
Rp. 78 = JPN 1
Artinya setiap Rp 9.000 ditukarkan dengan 1 US $ dan Rp 78 dengan 1 JPN.
Sedangkan perhitungan dengan indirect rate adalah sebaliknya yaitu menempatkan mata uang asing di depan mata uang domestik. Sebagai contoh seperti di bawah ini :
US $ 0,000111 = Rp 1 (1 : 9.000)
JPY 0,012820 = Rp 1 (1 : 78)
Artinya setiap 0,000111 US $ ditukar dengan 1 rupiah dan setiap 0,012820 Yen Jepang ditukar dengan 1 Rupiah.
E.Tujuan Melakukan Transaksi Valas
Transaksi valas baik yang dilakukan oleh bank, perusahaan lainya ataupun individu mengandung berbagai tujuan. Tujuan ini berbeda-beda sesuai dengan apa yang ingin diperoleh dari transaksi tersebut.
Ada beberapa tujuan dalam melakukan transaksi valas, baik yang dilakukan oleh perusahaan /badan maupun individu, yaitu :
•Untuk transaksi pembayaran
•Mempertahankan daya beli
•Pengiriman uang ke luar negeri
•Mencari keuntungan
•Pemagaran resiko
•Kemudahan berbelanja
Untuk lebih jelasnya akan dibahas berikut ini :
1.Untuk Transaksi Pembayaran
Sebagai contoh PT Marras, Importir di Indonesia melakukan pembelian sejumlah barang berupa mesin-mesin dari PT Roche di Jerman. Pembayaran dilakukan tergantung sales contrac yang telah disepkati dan ditandatangani kedua belah pihak apakah dengan DM jerman atau dengan rupiah.
Jika pembayaran dilakukan dengan mata uang eksportir (DM) maka transaksi valas akan terjadi di Indonesia (importir). Artinya transaksi jual-beli valuta asing terjadi di negara indonesia (importir). Dalam hal ini PT Marras harus membeli DM jerman kemudian di kirim ke Jerman untuk pembayaran.
Namun, bila pembayaran dilakukan mata uang pembeli di Indonesia dengan rupaih, maka transaksi jual beli terjadi di pihak eksportir di Jerman, di mana pihak eksportir harus lebih dulu menukarkan rupiah ke DM di Jerman.
Pembayaran dapat pula dilakukan dengan mata uang asing, misalnya dalam mata uang US $. Jika hal ini yang terjadi, maka transaksi valas terjadi di negara importir (Indonesia) dan eksportir (Jerman).
2.Mempertahankan Daya Beli
Kebijaksanaan pemerintah melakukan devaluasi bertujuan untuk meningkatkan ekspor sehingga barang-barang kita yang di luar negeri menjadi lebih kompetitif. Dengan melakukan devaluasi, maka nilai rupiah diturunkan terhadap mata uang yang didevaluasikan. Akan tetapi, bagi pemegang rupiah di dalam negeri justru nilai tukarnya terhadap mata uang asing malah menjadi turun akibatnya daya beli pun menurun jika dibandingkan dengan valas tersebut.
Sebagai contoh, pemerintah melakukan devaluasi sebesar 50% terhadap mata uang US $. Sebelum devaluasi nilai tukar 1 US $ adalah setara dengan Rp 9.000, maka nilai tukar US $ setelah devaluasi adalah sebagai berikut :
Nilai sebelum devaluasi 1 US $ = Rp 9.000,-
Devaluasi 50% x Rp 9.000 = Rp 4.500,-
Nilai 1 US $ setelah devaluasi = Rp 13.500,-
Jika sebelum devaluasi anda memegang uang rupiah senilai Rp 90.000.000,- atau setara dengan 10,000 US $, maka setelah tejadi devalusi, maka uang tersebut adalah.
Rp 90.000.000,- = 6,667 US $ (dibulatkan)
13.500
Jadi jelas nilai uang tersebut akan turun jika tidak dibelikan valas sebelum devaluasi.
3.Mengirim Uang ke Luar Negeri
Transfer ke luar negeri merupakan jasa bank dalam pengiriman uang ke luar negeri. Sarana yang digunakan dalam pengiriman ini dapat dilakukan dengan telex, telepon, faksimile, atau sarana lainya. Pengiriman dapat dilakukan dengan menggunakan negara pengirim atau negara yang akan dikirimkan. Jika pengiriman dalam mata uang negara tujuan, maka pertukaran valas terjadi di negara pengirim demikian pula jika pengiriman dengan menggunakan negara pengirim, maka transaksi valas terjadi di negara tujuan.
Sebagai contoh pengiriman uang keluar negeri adalah sebagai berikut :
TN. Arbi bermaksud mengirim sejumlah uang 10,000 US $ tujuan California USA. Kurs jual 1 US $ pada saat itu setara dengan Rp 9,000,- pengiriman dengan mata uang US $, maka Tn.Arbi harus membayar Rp90 juta atau setara dengan 10,000 US $.
Dalam hal ini transaksi valuta asing terjadi di Indonesia, namun jika pengiriman uang ke California menggunakan rupiah, maka transaksi valuta asing terjadi di California USA.
4.Mencari Keuntungan
Transaksi valas juga dapat dilakukan untuk mencari keuntungan atau kemudahan-kemudahan berbelanja. Sebagai contoh untuk mencari keuntungan nasabah dapat menyimpan uangnya dalam bentuk deposito valas atau rekening giro valas. Keuntungan dalam hal ini adalah disamping memperoleh suku bunga nasabah akan memperoleh keuntungan dari kenaikan kurs yang terus-menerus. Keuntungan lainya bagi nasabah yang menyimpan di rekening giro valas adalah dapat menarik atau mengeluarkan cek dan bilyet giro dalam valas sebagai alat pembayaran. Rekening giro atau deposito valas biasanya diterbitkan dalam valas yang kuat.
Kemudian keuntungan lainya adalah dengan membeli valas bank notes pada saat kurs turun kemudian menjualna kembali pada saat kurs
5.Pemagaran Resiko (Hedging)
Dalam hal pemagaran resiko atau hedging, seringkali terhadap utang dalam valuta asing, hal ini akibat dari sering terjadinya kenaikan kurs yang terus-menerus. Kenaikan kurs ini dapat meningkatkan nilai pinjaman atau utang jika tidak dilakukan hedging. Dengan dilakukan hedging minimal resiko kerugian dapat diperkecil seminimal mungkin.
Contoh pemagran resiko sebagai berikut :
Jika PT Marras mempunyai utang dalam valas senilai 10,000 US $ untuk jangka waktu 1 tahun dan kurs pada saat terjadinya utang (1 januari 2001) adalah 1 US $ adalah Rp 9.500,- untuk mengurangi resiko kerugian, maka PR Marras dapat melakukan kontrak 1 tahun dengan kurs misalkan Rp 11.000,- untuk 1 US $. Artinya setelah satu tahun, maka PT Marras harus membayar dengan kurs senilai Rp 11.000,-
Apabila ternyata setelah 1 tahun berjalan dengn fluktuasi kurs yang cenderung naik, nilai 1 US $ adalah setara dengan Rp 10.000,- maka PT Marras tetap membayar 1 US $ dengan Rp 11.000,- dalam arti ada selisih Rp 1.000,- untuk 1 US $.
Dengan demikian dapat dihitung
Jumlah yang seharusnya dibayar
10.000 US $ x Rp 10.000,- = Rp 100.000.000,-Jumlah yang dibayar akhir tahun
10,000 US $ x Rp 11.000,- = Rp 110.000.000,-
Kerugian = Rp 10.000.000,-
Akan tetapi, jika kurs naik menjadi Rp 13.000,- untuk 1 US $, maka jumlah yang dibayar tetap dan terdapat keuntungan sebesar selisih jumlah yang seharusnya dibayar dengan jumlah yang dibayar pada akhir periode. Hal ini dapat dilihat dari perhitungan di bawah ini :
Jumlah yang seharusnya dibayar
10,000 US $ x Rp 13.000,- = Rp 130.000.000,-Jumlah yang dibayar pada akhir periode
10,000 US $ x Rp 11.000,- = Rp 110.000.000,-
Keuntungan = Rp 20.000.000,-
PT Merawang memiliki piutang kepada PT Petaling tanggal 28 mei 2011 sejumlah 10.000 US $ untuk jangka waktu 1 tahun (jatuh tempo 28 mei 2012) dan kurs pada saat terjadinya piutang adalah 1 US $ = Rp 9.500,-
Untuk mengurangi risiko piutang tersebut oleh PT Merawang dikontrakkan (dihedgingkan) kepada PT Muntok dengan kurs 1 US $ = Rp 11.000,-
Pertanyaan :
Jika pada saat jatuh tempo 28 Mei 2012 diasumsikan kurs sebagi berikut :
oKurs menjadi 1 US $ = Rp 10.000,-
oKurs menjadi 1 US $ = Rp 11.000,-
Anda diminta untuk menganalisis apa yang terjadi terhadap PT Merawang dan PT Muntok ?
Jawab pertanyaan 1
Kurs awal 1US $ = Rp 10.000,-
Dihedgingkan = Rp 11.000,-
Jumlah yang seharusnya diterima
10.000 US $ x Rp 10.000 = Rp 100.000.000,-
Jumlah yang diterima
10.000 US $ x Rp 11.000 = Rp 110.000.000,-
PT Merawang untung Rp 10.000.000,-
PT Muntok rugi Rp 10.000.000,-
Jawab pertanyaan 2
Kurs awal 1 US $ = Rp 10.000,-
Dihedgingkan = Rp 13.000,-
Jumlah yang seharusnya diterima
10.000 US $ x Rp 13.000,- = Rp 130.000.000,-
Jumlah yang diterima
10.000 US $ x Rp 11.000,- = Rp 110.000.000,-
PT Merawang rugi Rp 20.000.000,-
PT Muntok untung Rp 20.000.000,-
6.Kemudahan Berbelanja
Di antara tujuan di atas yang sedang berkembang pesat sekarang ini adalah untuk tujuan kemudahan dalam berbelanja, terutama sekali bagi mereka yang suka bepergian ke luar negeri. Kemudahan ini dapat diwujudkan dengan membeli traveller cheque (TC) atau (cek perjalanan). Dengan membawa TC ini nasabah dengan mudah dapat berbelanja di berbagai tempat lain di berbagai negara. Kemudian nominal TC pun mengikuti kurs yang terus berkembang.
F.Jenis-jenis Transaksi Valas
Dalam jual beli antara bank dengan nasabah seperti bank notes, traveller cheque, rekening giro atau deposito valas yang penyerahanya dapat dilakukan pada saat transaksi dilakukan, namun untuk transaksi valas yang dilakukan dalam perdagangan internasional tidak selamanya penyerahan dapat dilakukan pada saat transaksi, mengingat jarak yang relatif jauh, perbedaan waktu serta volume transaksi yang besar, walaupun transaksi ditutup secara tunai (spot). Oleh karena itu, ada 3 macam jenis transaksi yang dapat dilakukan, yaitu :
i.Transaksi tunai (spot transaction)
ii.Transaksi tunggak (forward transaction)
iii.Transaksi barter (swap transaction)
Berikut ini pembahasan untuk masing-masing transaksi yang terjadi, yaitu sebagai berikut.
1)Transaksi Spot (spot transaction)
Dalam transaksi spot biasanya penyerahan valas ditetapkan 2 hari kerja berikutnya. Misalnya kontrak jual beli valas ditutp tanggal 10 maka penyerahanya dilakukan tanggal 12, namun apabila tanggal 12 hari minggu atau libur negara asal (home countries), maka penyerahan dapat dilakukan pada hari berikutnya (eligible date) tanggal penyerahan seperti ini disebut value date.
Ada tiga cara penyerahan dalam transaksi spot sebagai berikut.
•Value Today
Dimana penyerahan dilakukan pada tanggal (hari) yang sama dengan tanggal (hari) dilakukanya transaksi. Penyerahan ini sering disebut juga cash settlement. Sebagai contoh transaksi dilakukan hari senin tanggal 1 Mei, maka penyerahanya juga dilakukan pada hari tersebut.
•Value Tomorrow
Penyerahan dilakukan pada hari kerja berikutnya atau disebut one day settlement. Sebagai contoh transaksi terjadi pada hari senin tanggal 1 Mei, maka penyerahanya adalah pada hari selasa tanggal 2 Mei.
•Value Spot
Penyerahan dilakukan 2 hari kerja setelah transaksi. Seperti contoh di atas di mana transaksi terjadi hari senin tanggal 1 Mei, penyerahanya hari Rabu tanggal 3 Mei.
2)Transaksi Tunggak
Berbeda penyerahan antara ata transaksi spot dengan transaksi forward. Dalam transaksi forward atau disebut juga forward contract penyerahan dilakukan beberapa hari mendatang, baik secara mingguan atau bulanan.
Transaksi forward sering juga disebut transaksi berjangka, karena memang memiliki jangka waktu tertentu. Kurs ditetapkan pada waktu kontrak dilakukan, tetapi pembayaranya beberapa waktu mendatang sesuai dengan jangka waktunya. Akibat dibayar dengan jangka waktu, maka rate yang digunakan dalam transaksi forward lebih tinggi jika dibandingkan dengan transaksi spot. Transaksi semacam ini disebut “premium” dan bila yang terjadi sebaliknya disebut “discount”.
Transaksi forward sering dilakukan untuk pemagaran risiko atau (hedging) terhadap fluktuasi tingkat pertukaran (exchange rate).
Sebagai contoh jika seorang importir ingin menjamin pembayaranya dalam mata uang YEN JPN tanpa adanya kenaikan nilai tukar, maka dapat diatasi dengan transaksi forward contract. Dengan demikian, maka terhindar dari kenaikan kurs yang terus naik atau dapat diminimalkan tingkat kerugianya. Selain itu, transaksi forward juga dapat menjamin nilai tagihan bagi eksportir di masa mendatang.
3)Transaksi Barter (Swap Transaction)
Yang dimaksud dengan transaksi barter atau swap adalah kombinasi antara pembeli dan penjual untuk dua mata uang secara tunai yang diikuti membeli dan menjual kembali mata uang yang sama secara tunai dan tunggak secara simultan dengan batas waktu yang berbeda.
Transaksi barter sering kali disebut transaksi tukar pakai suatu mata uang untuk jangka waktu tertentu dan transaksi barter jumlah pembelian suatu mata uang selalu sama dengan jumlah penjualanya. Oleh karena itu, dalam transaksi barter tidak akan mengubah posisi pertukaran keuntungan.
Perbedaan antara barter dengan spot dan forward di mana transaksi spot dan forward hanya sekali saja, yaitu pada saat membeli atau menjual. Sebagai contoh pada saat membeli uang dalam transaksi.
G.Margin Trading
Merupakan kegiatan pembelian valas secara terus-menerus dalam suatu pasar misalnya di New York untuk kemudian dijual kembali dengan segera di pasar lain dengan harga yang lebih tinggi misalnya di Paris. Sistem jual beli valas semacam ini dapat berlangsung secara spot.
Sebagai contoh, jika harga 1 DM sama dengan US $ 0,850 di New York, sedangkan di Paris 1 US $ 0,840 maka bagi si pembeli DM di Perancis akan menjualnya ke New York dan akan memperoleh keuntungan US $ 0.010 sebelum dipotong untuk biaya transaksi, yaitu biaya komisi untuk para dealer. Transaksi seperti ini yang dikenal dengan istilah margin trading.
Secara umum margin trading yang dilakukan oleh bank haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut.
1.Dilaksanakan berdasarkan :
a.kebijakan direksi bank
b.suatu kontrak yang telah disetujui sebelumnya
2.Margin tranding dilakukan atas dasar tersedianya margin deposit yang ada.
3.Ditetapkan setinggi-tingginya 10% dari modal bank untuk kepentingan bank.
4.Untuk kepentingan nasabah margin trading ditetapkan setinggi-tingginya 10 kali dari margin deposit nasabah yang disetor ke bank.
5.Jika mengalami kerugian 5% dari modal, maka harus segera menghentikan kegiatan margin trading dan baru dapat dilakukan kembali setelah memperoleh persetujuan dari BI.
6.Margin deposit nasabah maupun bank harus dicantumkan dalam laporan mingguan dan bulanan.
Setelah memenuhi persyaratan di atas barulah bank dapat melakukan margin trading.
Untuk mengikuti margin trading ini biasanya nasabah cukup menyetorkan dalam bentuk deposito 10% dari nilai transaksi. Sebagai contoh Tn. Roy Akase ingin melakukan margin trading dengan meminta kepada BNI untuk membeli US $ 100 ribu pada saat transaksi terjadi US $ 1 sama dengan 269 Yen. Tn Roy Akase dalam hal ini cukup menyerahkan ke BNI sejumlah US $ 100 ribu. Seandainya keesokan harinya nilai tukar Yen terhadap US $ menjadi 270, maka dalam waktu sehari Tn Roy Akase akan memperoleh keuntungan 1 x US $ 100 ribu atau sebesar 100 ribu US $.
Akan tetapi, jika terjadi sebaliknya, maka Tn. Roy Akase wajib menyetor ke BNI berikut kerugianya. Misalnya karena butuh uang keesokan harinya Tn. Roy Akase tetap menjual valasnya, sedangkan harga 1 US $ adalah 260 Yen. Dari sini tampak bahwa Tn. Roy Akase mengalami kerugian sebesar 9 x US $ 100 ribu = US$ 900 ribu.
H.Interaksi antara Pasar Valas dan Pasar Uang
Pemilihan dana dalam pasar valas selalu berkaitan dengan pasar uang. Artinya jika kita hendak menginvestasikan uang kita dalam pasar uang, maka kita akan selalu mempertimbangkan kegiatan yang terjadi di pasar valas, demikian pula sebaliknya. Hal ini dilakukan untuk menentukan investasi mana yang lebih menguntungkan di pasar uang atau valas. Interaksi antara pasar uang dan valas ini menjadi lebih penting apabila jumlah dana yang ada dalam jumlah besar atau kondisi ekonomi pada saat yang kurang baik.
Sebagai contoh:
Hari ini Jumat tanggal 28 Mei 2011 adalah hari libur, dan kurs 1 US$ = Rp 9.000,- sementara itu harga Pasar Uang 17% pa. Pihak investor memiliki dana yang cukup besar untuk diinvestasikan.
Pertanyaan pertama:
Menurut anda investasi mana yang akan dipilih investor membeli valas atau pasar uang ?
Jawab:
Mencari nilai tambah selama masa libur :
Kurs tanggal 28 Mei adalah 1 US $ = Rp 9.000,-
Bunga di pasar uang 17% pa
Jangka waktu 28-31 Mei 2011 ( 3 hari )
3 x 0,17 x 9000
Nilai tambah = = 12,75
360
Mencari nilai total :
Sehingga nilai total : Rp9.000 + Rp 12,75 = Rp 9.012,75
Jadi jawabanya adalah sebagai berikut :
1.Jika kurs ditambah dengan nilai tambah lebih BESAR dari Nilai Total ( 9.012,75 ) maka sebaiknya investor membeli valas.
2.Jika kurs ditambah dengan nilai tambah lebih KECIL dari Nilai Total ( 9.012,75 ) maka sebaiknya investor membeli pasar uang.
Pertanyaan lanjutan:
Jika kondisi hari Senin diperkirakan sebagai berikut:
1.Kurs 1 US$ = Rp. 9.030,-
2.Kurs 1 US$ = Rp. 9.010,-
Anda diminta untuk menentukan pilihan apakah investor membeli valas atau pasar uang?
Jawab:
1.Sebaiknya investor membeli Valas karena 1US$ > Rp.9.012,75 (9.030)
2.Sebaiknya investor membeli PU karena 1 US$ < Rp. 9.012,75 (9.010)
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Pasar uang (money market) diartikan sebagai sekelompok pasar dimana instrumen kredit jangka pendek (biasanya jatuh tempo dalam waktu 1 tahun atau kurang), yang umumnya berkualitas tinggi diperjual-belikan. Bagi pihak yang memerlukan dana dan mencari dana tersebut di pasar uang terdapat beberapa tujuan. Tujuan ini tergantung dari kepentingan dan kebutuhan pencari dana. Tujuan pihak dalam menghimpun dana dari pasar uang yaitu untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek , Untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, Untuk memperoleh penghasilan dengan tingkat suku bunga tertentu, bermaksud membantu pihak yang benar-benar mengalami kesulitan keuangan, Spekulasi dengan harapan akan memperoleh keuntungan besar dalam waktu yang relatif singkat dan dalam kondisi ekonomi tertentu.
Pasar valuta asing atau sering disebut dengan istilah Foreign exchange market merupakan pasar dimana transaksi valuta asing dilakukan antarnegara maupun dalam suatu negara. Ada beberapa tujuan dalam melakukan transaksi valas, baik yang dilakukan oleh perusahaan /badan maupun individu, yaitu untuk transaksi pembayaran, mempertahankan daya beli, pengiriman uang ke luar negeri, mencari keuntungan , pemagaran resiko, kemudahan berbelanja.
Pemilihan dana dalam pasar valas selalu berkaitan dengan pasar uang. Artinya jika kita hendak menginvestasikan uang kita dalam pasar uang, maka kita akan selalu mempertimbangkan kegiatan yang terjadi di pasar valas, demikian pula sebaliknya. Hal ini dilakukan untuk menentukan investasi mana yang lebih menguntungkan di pasar uang atau valas. Interaksi antara pasar uang dan valas ini menjadi lebih penting apabila jumlah dana yang ada dalam jumlah besar atau kondisi ekonomi pada saat yang kurang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Kasmir . 2015. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya/ Ed. Revisi-cet.16. Jakarta : Rajawali Pers
FRAUD
A. Definisi Fraud
Dari sudut pandang akuntansi dan audit, kecurangan adalah penggambaran yang salah dari fakta material dalam buku besar atau laporan keuangan. Pernyataan yang salah dapat ditujukan pada pihak dalam organisasi seperti pemegang saham atau kreditor, atau pada organisasi itu sendiri dengan cara menutupi atau menyamarkan penggelapan uang, ketidakcakapan, penerapan dana yang salah atau pencurian atau penggunaan aktiva organisasi yang tidak tepat oleh petugas, pegawai atau agen.
Definisi lainnya:
1. New World Dictionary
Mendefinisikan fraud sebagai kecurangan yang disengaja sehingga orang lain menyerahkan barang atau hak.
2. The Association of Fraud Examiners
Mendefinisikan fraud sebagai penggunaan jabatan untuk memperkaya diri dengan cara sengaja menggunakan sumber daya atau aset perusahaan dengan cara tidak benar.
3. The Federal Bureau of Investigation
Mendefinisikan fraud sebagai proses mendapatkan uang atau barang dengan cara curang, termasuk pencurian dengan menggunakan cek kosong diluar pemalsuan.
4. The Australian Institute of Criminology
Mendefinisikan fraud sebagai perilaku curang dan tidak jujur untuk mendapatkan keuntungan dari pihak lain menyimpang dari prinsip keadilan.
B. Unsur-unsur Dasar Fraud
1. Niat, maksudnya secara sengaja melakukan perbuatan jahat, atau upaya untuk menipu orang lain.
2. Menyamarkan, maksudnya manipulasi atau misrepresentasi.
3. Kepercayaan, maksudnya memanfaatkan keteledoran atau kecerobohan orang lain.
4. Penyembunyian, maksudnya membuat korban fraud tidak mengetahui atau peduli atas kejadian tersebut.
5. Keahlian, maksudnya kemampuan untuk menggunakan teknik fraud secara efektif.
C. Klasifikasi Fraud
1. Berdasarkan pencatatan (pencurian asset)
a. Terbuka dalam pembukuan (fraud open on the books).
b. Duplikasi pembayaran yang tercantum dalam catatan akuntansi.
c. Tampak pada buku tapi tersembunyi di antara catatan akuntansi yg valid (fraud hidden on the books).
d. Tidak tampak dalam pembukuan (fraud off the books).
e. Pencurian uang pembayaran piutang dagang yang telah dihapusbukuan (write off).
2. Berdasarkan frekuensi
a. Tidak berulang (non-repeating fraud) = pembayaran cek mingguan karyawan memerlukan kartu kerja mingguan.
b. Berulang (repeating fraud) = pembulatan ke bawah atas selisih saldo tabungan dan memindahkannya ke rekening tertentu (terkait dengan program aplikasi komputer).
3. Berdasarkan konspirasi
a. Terjadi konspirasi atau kolusi
b. Tidak terdapat konspirasi
c. Terdapat konspirasi parsial
4. Berdasarkan keunikan
a. Fraud khusus (specialized fraud) = pengambilan aset yang disimpan pada lembaga keuangan, klaim asuransi yang tidak benar.
b. Fraud umum (garden varieties of fraud) = penetapan harga yang tidak benar, pesanan pembelian yang lebih tinggi dari kebutuhan, pembayaran ganda.
5. Berdasarkan pelaku
a. Fraud yang dilakukan terhadap organisasi (fraud committed against an organization) = dilakukan pegawai karena kedudukannya bisa eksekutif, manajer atau pegawai biasa.
Ciri-cirinya :
dilakukan sembunyi-sembunyi;
melanggar kepercayaan organisasi;
untuk keuntungan pelaku;
membebani asset, pendapatan atau cadangan yang dimiliki perusahaan.
Fraud yang dilakukan untuk kepentingan organisasi (fraud behalf of an organization ) dilakukan oleh top management, contohnya kecurangan dalam pelaporan keuangan. Pihak yang dirugikan adalah pemegang saham, kreditur dan pihak-pihak yang yang membutuhkan laporan keuangan perusahaan.
D. Kondisi Penyebab Terjadinya Fraud
Secara teoritis, kondisi pokok yang menjadi penyebab seseorang melakukan tindak perbuatan fraud yaitu sebagai berikut :
1. Kondisi lingkungan individu
Lingkungan individu merupakan salah satu faktor yang berpengaruh kuat terhadap kemungkinan terjadinya fraud. Penelitian menunjukkan bahwa fraud terjadi sebagai akibat kombinasi antara tekanan yang dialami individu (seseorang) dengan lingkungan yang memungkinkan seseorang atau kelompok untuk melakukan kecurangan.
Keadaan dan sifat atau karakter individu atau seseorang yang mempengaruhinya untuk melakukan fraud antara lain sebagai berikut :
a. Sifat tamak dan ingin mengejar kemewahan.
b. Moral yang kurang kuat dalam menghadapi godaan.
c. Penghasilan yang kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
d. Adanya kebutuhan yang mendesak yang tidak dapat diatasi dengan usaha atau penghasilan normal.
e. Malas atau tidak mau bekerja keras.
f. Ajaran agama yang tidak (kurang) diterapkan secara benar.
2. Kondisi lingkungan organisasi atau perusahaan tempatnya bekerja
Seseorang untuk melakukan fraud antara lain sebagai berikut :
a. Kurang adanya teladan dari pimpinan.
b. Tidak adanya kultur organisasi yang baik.
c. Sistem akuntabilitas yang kurang memadai.
d. Kelemahan sistem pengendalian manajemen.
e. Adanya kecenderungan dari manajemen untuk menutupi korupsi yang terjadi di dalam organisasinya.
3. Kondisi lingkungan masyarakat tempat individu dan organisasi berada
Mempengaruhi seseorang untuk melakukan fraud antara lain sebagai berikut :
a. Nilai yang berlaku di masyarakat yang ternyata kondusif untuk terjadinya fraud.
b. Budaya yang menilai keberhasilan seseorang dari tingkat materi (kekayaan) yang dimilikinya.
c. Kurangnya kesadaran masyarakat akan kerugian yang harus ditanggungnya akibat dari praktek fraud yang terjadi.
d. Kurangnya kesadaran masyarakat akan perannya dalam mencegah dan memberantas yang menjadi pendorong terjadinya fraud.
4. Pengaruh peraturan perundang-undangan terhadap praktek fraud
Terjadi karena hal berikut :
a. Adanya peraturan perundang-undangan monopolistik.
b. Kualitas peraturan perundang-undangan kurang memadai.
c. Peraturan kurang disosialisasikan.
d. Sanksi atas pelanggaran aturan terlalu ringan.
e. Adanya peraturan yang tumpang tindih.
f. Pembuat aturan dapat disuap.
g. Ketidakkonsistenan dalam penegakan hukum dan peraturan perundangan yang ada.
5. Faktor intern organisasi atau perusahaan
Beberapa faktor intern perusahaan yang dapat menciptakan peluang terjadinya fraud antara lain sebagai berikut :
1. Kelemahan sistem pengendalian manajemen.
a. Manajemen tidak menekankan pentingnya peran sistem pengendalian manajemen.
b. Manajemen tidak menindak pelaku fraud.
c. Manajemen tidak mengambil sikap terhadap adanya conflict of interest.
d. Manajemen kurang peduli pada masalah keuangan yang dihadapi karyawan.
e. Manajemen kurang memperhatikan kesejahteraan karyawan.
f. Para eksekutif menunjukkan sikap hidup mewah.
g. Internal auditor tidak mempunyai kewenangan untuk menyelidiki kegiatan para eksekutif terutama menyangkut pengeluaran yang sangat besar.
h. Manajemen sendiri aktif melakukan fraud.
2. Gaji atau pendapatan yang diberikan perusahaan tidak cukup kompetitif dibandingkan dengan gaji di perusahaan lain yang sejenis.
6. Gone Theory
Gone Theory yang dikemukakan oleh Jack Bologne menjelaskan bahwa faktor yang menyebabkan terjadinya kecurangan meliputi hal-hal berikut :
1. Greedy (keserakahan), berkaitan dengan adanya prilaku serakah yang secara potensial ada dalam diri setiap orang.
2. Opportunities (kesempatan), berkaitan dengan keadaan organisasi atau instansi atau lingkungan masyarakat yang sedemikian rupa sehingga membuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan.
3. Needs (kebutuhan), berkaitan dengan kebutuhan seseorang/individu untuk dapat hidup secara wajar atau yang diinginkan.
4. Exposure (pengungkapan), berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang akan dihadapi oleh seseorng apabila ditemukan melakukan fraud.
E. Penggolongan Fraud
Fraud adalah suatu perbuatan melawan atau melanggar hukum yang dilakukan oleh orang dari dalam atau dari luar organisasi, dengan maksud untuk memperkaya atau mendapatkan keuntungan diri sendiri, orang lain, atau badan hukum lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan pihak lain. Fraud dapat digolongkan menurut korbannya, menurut pelakunya, dan menurut akibat hukumnya.
1. Ditinjau dari korbannya
Fraud dapat dibedakan antara fraud yang mengakibatkan kerugian di dalam entitas organisasi dan yang mengakibatkan kerugian pihak lain.
1) Fraud yang mengakibatkan kerugian di dalam organisasi dapat dilakukan oleh orang dalam atau luar organisasi misalnya sebagai berikut :
a. Kecurangan yang dilakukan oleh rekanan atau pemasok dengan cara mengirim barang kurang dari yang seharusnya, atau merendahkan kualitas barang yang dikirim, atau melakukan penagihan ganda.
b. Manipulasi dengan menciptakan piutang fiktif atau meninggikan jumlahnya yang kemudian diperoleh keuntungan pada pembayaran piutang tersebut.
c. Manipulasi dengan meninggikan biaya.
2) Fraud yang mengakibatkan kerugian pihak lain, misalnya berikut ini.
a. Meninggikan nilai asset atau laba perusahaan pada laporan keuangan sehingga merugikan pemegang saham atau kreditur.
b. Meninggikan (mark up) nilai kontrak sehingga merugikan pemberian kerja.
c. Memperkecil pendapatan atau meninggikan biaya agar laba perusahaan lebih kecil dari yang seharusnya sehingga merugikan negara berupa berkurangnya penerimaan pajak.
d. Melaporkan penjualan eksport yang sebenarnya tidak dilakukan (eksport fiktif) agar PPN masukan lebih kecil dibandingkan PPN keluarannya sehingga dapat merestitusi pajak yang merugikan negara.
2. Ditinjau dari segi pelaku
Fraud dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Kecurangan manajemen yang biasa disebut kejahatan kerah putih (white collar crime),yaitu kejahatan yang dilakukan oleh orang penting atau orang yang status sosialnya tinggi dan dilakukan dalam rangka pekerjaannya. Kejahatan kerah putih melibatkan suatu pelangaran tugas, kewajiban, dan tanggung jawab dengan cara melakukan tindakan /perbuatan atau menghilangkan dengan tersamar atau dengan jelas dalam suatu kecurangan yang disengaja, pencurian, atau penyelewengan dari suatu harta yang dipercayakan kepadanya.
2. Kecurangan karyawan, yakni tindakan tidak jujur yang dilakukan karyawan yang berkaitan dengan kerugian dari entitas organisasinya meskipun manajemen telah menetapkan langkah pencegahan.
3. Kecurangan dari luar organisasi, yaitu yang dilakukan oleh pemasok, leveransir kontraktor, dan sebagainya sehubungan dengan penyerahan pekerjaan, barang, atau jasa yang merugikan penerimaannya.
4. Kecurangan yang melibatkan orang luar dan orang dalam organisasi melalui kerja sama yang tidak sehat (kolusi).
3. Ditinjau dari akibat hukum
1. Merupakan tindak Pidana Khusus (dahulu UU No.3 Tahun 1971, sekarang UU No.31 Tahun 1999).
2. Merupakan Tindak Pidana Umum (diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).
3. Merupakan Kasus Perdata (unsur melanggar hukum diatur dalam pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata).
F. Faktor-faktor Penyebab Kegagalan Pendeteksian Kecurangan
Menurut Tri Ramaraya (2008) terdapat beberapa faktor-faktor penyebab kegagalan pendeteksian kecurangan (fraud) yaitu :
1. Karakteristik terjadinya kecurangan
Terjadinya kecurangan sebenarnya berbeda dengan kekeliruan. Menurut Loebbecke et al. (1989), kecurangan lebih sulit untuk dideteksi karena biasanya melibatkan penyembunyian (concealment). Penyembunyian itu terkait dengan catatan akuntansi dan dokumen yang berhubungan, dan hal ini juga berhubungan dengan tanggapan pelaku kecurangan atas permintaan auditor dalam melaksanakan audit. Jika auditor meminta bukti transaksi yang mengandung kecurangan, dia akan menipu dengan memberi informasi palsu atau tidak lengkap. Ketidakmampuan auditor dalam pendeteksian kecurangan ini ada hubungan dengan keahliannya dibentuk oleh pengalaman yang relevan dengan kecurangan. Kecurangan itu sendiri frekuensi terjadinya jarang dan tidak semua auditor pernah mengalami kasus terjadinya kecurangan, sehingga pengalaman auditor berkaitan dengan kecurangan tidak banyak.
2. Standar pengauditan mengenai pendeteksian kecurangan
Perubahan SAS No. 53 menjadi SAS No. 82 berusaha mengatasi kelemahan yang ada padaSAS 53. SAS No. 82 meminta penilaian risiko kecurangan dilaku-kan secara eksplisit dan terpisah. Auditor juga diminta untuk mendokumentasikan penilaian risiko kecurangan secara terpisah. Zimbelman (1997) dalam penelitiannya mengatakan standar ini harusnya dapat mengarahkan audit untuk memberi banyak waktu membaca isyarat kecurangan dan merancang rencana audit yang lebih sensitif terhadap risiko kecurangan. Sepertiterbukti dari penelitian Zimbelman ini, SAS No. 82 memang cukup berhasil mengarahkan auditor untuk memperhatikan kecurangan.Perubahan SAS No. 82 menjadi SAS No. 99 banyak menyerap rekomendasi yang diberikan PAE, sehingga merupakan upaya perbaikan yang signifikan dalam standar pengauditan. SAS No. 99 ini dirancang untuk memperluas prosedur audit yang berkenaan dengan kecurangan material pada laporan keuangan. Standar baru ini mempertimbangkan kecurangan secara menyatu dalam proses audit dan secara terus-menerus dimu-takhirkan sampai selesainya audit. Dalam standar ini diuraikan proses dimana auditor (1) menyajikan informasi yang diperlukan untuk mengidentifikasi risiko salah saji material yang disebabkan oleh kecurangan, (2) menilai risikorisiko tersebut setelah mengevaluasi program dan pengendalian oleh entitas dan (3) menanggapi hasil dari penilaian tersebut. Auditor menyajikan dan mempertimbangkan lebih banyak informasi dalam menilai risiko kecurangan daripada yang pernah dialami di masa-masa sebelumnya. Selain itu juga auditor diminta mendokumentasikan penilaian mereka secara eksplisit dalam kertas kerja. SAS No. 99 ini mengingatkan auditor untuk mengatasi kecenderungan alami mereka seperti terlalu percaya pada representasi klien dan bias dan pendekatan audit mereka dengan sikap skeptis dan pikiran yang mempertanyakan. Hal yang penting juga adalah auditor harus menyesampingkan hubungan masa lalu dan tidak menganggap klien jujur.
3. Lingkungan pekerjaan audit yang mengurangi kualitas audit
Tekanan-tekanan lingkungan pekerjaaan itu dapat dibagi menjadi atas beberapa hal yang diterangkan di bawah yaitu tekanan kompetisi atas fee, tekanan waktu dan relasi hubungan auditor-auditee.
G. Mengkategorikan Kecurangan
Association of Certified Fraud Examinations (ACFE- 2000), salah satu asosiasi di USA yang mendarmabaktikan kegiatannya dalam pencegahan dan pemberantasan kecurangan, mengkategorikan kecurangan dalam tiga kelompok sebagai berikut:
1. Kecurangan laporan keuangan (financial statement fraud)
Kecurangan Laporan Keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan Keuangan yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat financial atau kecurangan nonfinancial. Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi melalui analisis laporan keuangan sebagai berikut :
a. Analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau Laporan arus kas dengan menggambarkannya dalam persentase
b. Analisis horizontal, yaitu teknik untuk menganalisis persentasepersentase perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan.
c. Analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item dalam laporan keuangan.
2. Penyalahgunaan aset (asset misappropriation)
Penyalahagunaan asset dapat digolongkan ke dalam kecurangan kas dan kecurangan atas persediaan dan asset ainnya, serta pengeluaran-pengeluaran biaya secara curang (fraudulent disbursement).
3. Korupsi (corruption)
Korupsi dalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE, bukannya pengertian korupsi menurut UU Pemberantasan TPK di Indonesia. Menurut ACFE, korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of interest), suap (bribery), pemberian illegal, dan pemerasan.
H. Langkah-Langkah yang Dapat Dilakukan Auditor dalam Mendeteksi Fraud
1. Bagaimana auditor dapat berkomunikasi dengan efektif sehingga pihak klien lebih termotivasi untuk menyumbangkan informasi tentang fraud. Dengan perkataan lain, diskusi ini merupakan langkah awal bagaimana auditor mendapatkan informasi mengenai fraud.
2. Auditor menerapkan unsur unpredictability (tidak dapat ditebak) dalam prosedur auditnya, misalnya mengacak sifat, jadwal dan sampel pengujiannya.
3. Auditor perlu mengasah sensivitasnya akan hal-hal yang sifatnya tidak lazim yang boleh jadi merupakan indikasi akan terjadinya fraud. Misalnya memeriksa manual journal entry, auditor melihat adanya angka yang secara ganjil jumlahnya bulat, sewaktu dicek lebih lanjut ternyata benar bahwa angka tersebut merupakan angka yang dimarkup dengan cara dibulatkan ke atas.
4. Dalam menjalankan jasa profesionalnya, auditor perlu menerapkan praktik - praktik manajemen risiko secara lebih baik. Sebagai contoh, auditor akan melakukan penilaian, berdasarkan kriteria tertentu,atas hal-hal sebagai berikut:
a. Apakah auditor dapat menerima suatu entitas sebagai kliennya ?
b. Apakah audito dapat melanjutkan hubungan professional dengan kliennya dari satu periode ke periode berikutnya ?
c. Apakah auditor dapat menerima suatu penugasan tertentu dari kliennya ?
Dengan perkataan lain, bila auditor meragukan integritas dari manajemen suatu entitas, atau berdasarkan pengalaman entitas tersebut rentan terhadap fraud, maka auditor dapat memutuskan untuk secara professional tidak menerima entitas tersebut sebagai kliennya.
I. Bidang yang Beresiko Tinggi Terkena Fraud
Ada 6 bidang yang beresiko tinggi untuk terkena fraud atau kecurangan , yaitu:
1. Purchasing and payroll Fraud dalam purchasing biasanya dilakukan dengan cara :
a. Kickback atau suap diberikan kepada pihak yang mengurus pembelian sebagai imbalan atas diberikannya kontrak kepada supplier.
b. Invoice palsu yang dibuat sendiri oleh pihak yang mengurus pembelian, kemudian ditagihkan ke perusahaan dan dibayar.
c. Manipulasi data supplier misalnya nomor rekening pembayaran ke supplier diubah ke rekening orang lain.
2. Sales and inventory Fraud dalam jenis ini misalnya :
a. Pencurian inventory baik yang sedang disimpan atau dalam pengiriman.
b. Transaksi penjualan dengan sengaja tidak dicatat atau dikurangi pencatatannya dan uang yang diterima atas penjualan tersebut masuk ke kantong pribadi.
c. Mengurangi atau menghapuskan jumlah utang konsumen atas barang yang sudah dijual secara kredit.
d. Mencatat transaksi penjualan palsu untuk mendapatkan komisi atau bonus terkait dengan penjualan.
e. Memberikan diskon berlebihan kepada konsumen.
3. Cash and check
Kas merupakan asset yang paling sensitif terhadap fraud karena kas kelihatan secara fisik dan relatif lebih mudah dipindah tangankan dibandingkan asset perusahaan yang lain. Fraud atas cek biasanya terjadi ketika terdapat kelemahan dalam proses rekonsiliasi bank.
4. Physical security
Kelemahan dalam physical security dapat menimbulkan asset misa propriation.
5. Hak kekayaan intelektual (HAKI) dan kerahasiaan informasi
Ini terkait dengan fraud dalam pembajakan dan pencurian informasi penting milik perusahaan.
6. Information Technology
IT fraud meliputi hacking, mail-bombing, spamming, domain name hijacking, server takeovers, denial of service, internet money laundering, electronic eavesdropping, electronic vandalism and terrorrism.
J. Pelaku Fraud
Fraud dapat dilakukan oleh siapa saja, meskipun pelaku fraud adalah orang yang dapat dipercaya. Kemungkinan besar suatu fraud terjadi ketika lingkungan pekerjaan integritasnya lemah, pengendaliannya tidak kuat, kehilangan akuntabilitas, atau mendapat tekanan yang besar, maka tidak dapat dipungkiri seseorang akan melakukan ketidakjujuran.
Pelaku kecurangan dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu manajemen dan karyawan atau pegawai. Pihak manajemen melakukan kecurangan biasanya untuk kepentingan perusahaan, contoh kecurangan yang dilakukan oleh manajemen yaitu salah saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (misstatements arising from fraudulent financial reporting). Sedangkan karyawan atau pegawai melakukan kecurangan bertujuan untuk keuntungan individu, misalnya salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva (misstatements arising from misappropriation of assets).
K. Korban Fraud
Mengacu pada Albrecht, dan Zimbelman (2009:10), berdasarkan pihak yang menjadi korban, fraud dikelompokkan menjadi:
1. Fraud yang mengakibatkan perusahaan atau organisasi menjadi korban. Dalam kategori ini, fraud dibagi kembali menjadi kelompok – kelompok yang lebih spesifik;
a. Penggelapan oleh karyawan – pelaku fraud merupakan anggota atau karyawan dari perusahaan atau organisasi. Dalam fraud jenis ini, pelaku mengambil aset perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengambilan aset secara langsung dilakukan dengan cara mengambil uang tunai, perlengkapan, peralatan serta aset – aset lain perusahaan, sedangkan kecurangan secara tidak langsung dilakukan dengan menerima sogokan atau komisi dari pihak ketiga.
b. Fraud yang melibatkan pemasok – pelaku fraud adalah pemasok dari suatu perusahaan atau organisasi. Fraud ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu yang dilakukan sendiri dan fraud yang melibatkan pihak lain. Pada fraud yang melibatkan pihak lain, biasanya pelaku bekerja sama dengan bagian pembelian suatu perusahaan.
c. Fraud yang melibatkan pelanggan – pelaku fraud adalah pelanggan dari suatu perusahaan atau organisasi. Pelanggan yang melakukan kecurangan biasanya tidak membayar untuk barang yang dibeli, atau menipu perusahaan atau organisasi untuk memberikan mereka (pelaku) barang yang tidak seharusnya mereka miliki.
2. Fraud yang dilakukan oleh manajemen – korban dari fraud jenis ini adalah pemegang saham dan pemberi pinjaman dari suatu organisasi atau perusahaan. Fraud yang dilakukan oleh manajemen juga sering disebut sebagai kecurangan pelaporan keuangan. Manajemen melakukan fraud ini dengan memanipulasi laporan keuangan perusahaan.
3. Penipuan investasi dan penipuan pelanggan lainnya – korban dalam fraud jenis ini adalah pihak – pihak yang kurang berhati – hati atau kurang pengetahuan. Para pelaku fraud jenis ini umumnya menjual investasi palsu ke korban.
4. Kecurangan lain – lain – korban dari fraud jenis ini tidak memiliki batasan golongan.